Kamis, Mei 21, 2026
BerandaBerita TerkiniMeta Bersiap Hapus...

Meta Bersiap Hapus Akun Anak di Bawah 13 Tahun lewat Teknologi AI

HABAKITA – Meta, perusahaan teknologi pemilik Facebook dan Instagram, berencana menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencari dan menghapus akun pengguna yang diduga berusia di bawah 13 tahun.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya Meta memperketat pengawasan usia pengguna di platform media sosialnya. Batas usia minimum membuat akun Facebook dan Instagram saat ini ditetapkan 13 tahun.

Meta menyebut banyak pengguna di bawah umur mendaftar dengan tanggal lahir palsu agar terlihat lebih tua dan bisa mengakses platform tersebut.

“Kami ingin anak muda memiliki pengalaman online yang aman dan positif,” demikian pembukaan siaran pers Meta pada awal Mei saat mengumumkan kebijakan tersebut.

Perusahaan menyatakan akan terus mencari cara untuk menemukan akun yang sebenarnya dimiliki anak di bawah umur meski menggunakan data usia yang tidak sesuai.

Meta menjelaskan AI akan digunakan untuk membaca berbagai petunjuk yang muncul di akun pengguna.

Perusahaan akan “menggunakan teknologi AI untuk menganalisis seluruh profil guna mencari petunjuk kontekstual, seperti perayaan ulang tahun atau penyebutan tingkat kelas sekolah, untuk menentukan apakah sebuah akun kemungkinan dimiliki oleh pengguna di bawah umur,” tulis siaran pers tersebut.

“Kami mencari sinyal-sinyal ini di berbagai format, seperti unggahan, komentar, bio, dan caption.”

Unggahan ulang tahun, foto pesta, penyebutan kelas sekolah, hingga isi keterangan foto dapat menjadi bahan analisis AI.

Kebijakan ini diumumkan beberapa hari setelah Komisi Eropa menyampaikan temuan awal bahwa Meta dinilai belum cukup efektif mencegah anak di bawah usia 13 tahun menggunakan Facebook dan Instagram di kawasan Uni Eropa.

Baca juga:  Tani Merdeka dan APPSI Gelar Aksi Damai, Dukung Ekonomi Kerakyatan Presiden Prabowo

Meta menggunakan sistem AI internal bernama Meta AI untuk mendukung proses tersebut.

Selain membaca konteks unggahan, AI juga disebut akan mengevaluasi unsur visual dalam foto pengguna. Meta menyebut analisis dapat mencakup perkiraan tinggi badan dan struktur tulang wajah yang tampak pada foto.

Langkah itu memicu perdebatan karena sebagian pihak menilai pendekatan tersebut terlalu jauh dan berpotensi mengganggu privasi.

Profesor teori pendidikan dan sosialisasi Universitas Potsdam, Nina Kolleck, menilai Meta harus membangun basis data usia yang sangat luas agar AI dapat mengenali pola usia pengguna.

“AI membutuhkan data untuk belajar sehingga bisa menarik kesimpulan mengenai usia dan perilaku,” kata Kolleck kepada DW.

Meta menyatakan data anak di bawah usia 13 tahun tidak digunakan untuk melatih sistem AI mereka.

Namun, kritik tetap muncul dari kalangan akademisi dan pemerhati teknologi.

Profesor perilaku manusia dan teknologi Universitas Oxford, Andy Przybylski, menilai gagasan bahwa pengumpulan data besar-besaran dapat menjamin keamanan anak di internet merupakan pandangan yang keliru.

“Ini adalah gagasan yang sangat populer dan sangat keliru bahwa dengan mengumpulkan dan memproses data, wajah, dan perilaku anak muda secara invasif, kita bisa menjaga mereka tetap aman,” kata Przybylski kepada DW.

“Yang sebenarnya terjadi adalah terciptanya daftar target iklan yang terverifikasi,” katanya.

Perdebatan soal pembatasan usia media sosial juga terus berkembang di berbagai negara.

Australia dan Indonesia baru-baru ini mengesahkan aturan yang membatasi penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, termasuk platform milik Meta dan aplikasi lain seperti TikTok.

Baca juga:  Pelantikan APPSI Banyumas, Don Muzakir Ajak Pedagang Dukung Ekonomi Kerakyatan Presiden Prabowo

Negara-negara di Uni Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Polandia juga tengah membahas kebijakan serupa.

Meski demikian, pembatasan usia masih menuai perbedaan pandangan.

Peneliti senior hukum dan tata kelola media dari Leibniz Institute for Media Research, Stephan Dreyer, menilai masalah utama justru berada pada desain platform media sosial.

“Ada faktor-faktor nyata di platform ini yang berisiko bagi perkembangan remaja yang sehat: scrolling tanpa akhir rekomendasi sepihak yang mendorong penggunaan berfokus pada kecantikan sehingga memicu perbandingan diri atau konten diskriminatif,” kata Dreyer kepada DW.

Menurut dia, regulasi seharusnya diarahkan pada karakteristik platform, bukan semata-mata menetapkan batas usia pengguna.

Przybylski juga menilai larangan usia bukan jawaban tunggal.

Ia mendukung penguatan perlindungan privasi dan pendidikan literasi digital bagi anak maupun orang tua.

Melarang remaja mengakses media sosial hingga usia tertentu, menurut dia, tidak otomatis menyelesaikan masalah.

“menggunakan logika yang sama seperti pendidikan seks berbasis abstinensi,” kata Przybylski. “Kita juga tidak langsung memberikan SIM hanya karena seseorang mencapai usia tertentu, mereka perlu belajar terlebih dahulu.”

Pandangan serupa muncul dari hasil survei UNICEF Jerman pada April 2026. Survei itu menunjukkan 74 persen remaja berusia 14 hingga 16 tahun menolak larangan media sosial untuk pengguna di bawah usia 16 tahun.

Juru bicara UNICEF Jerman, Katja Sodomann, mengatakan media sosial kini menjadi bagian dari kehidupan sosial banyak remaja, termasuk kelompok rentan.

Baca juga:  Tiga Kapal Perang Pakistan Datang ke Jakarta, Bawa Misi Persahabatan dan Diplomasi

“Itu terutama berlaku bagi remaja dari kelompok rentan atau minoritas,” katanya kepada DW. “Seseorang dengan latar belakang pengungsi mungkin tidak bisa berkomunikasi dengan teman atau keluarga di negara asal tanpa media sosial. Anak-anak LGBTQ+ mungkin menemukan komunitas secara online. Remaja dengan disabilitas yang mobilitasnya terbatas bisa menggunakan media sosial untuk tetap terhubung dengan teman-teman.”

Kekhawatiran juga datang dari kalangan orang tua.

Nadia, ibu dua anak di Bremen, Jerman, mengaku tidak nyaman dengan rencana Meta menggunakan AI untuk menganalisis akun pengguna.

Putranya yang berusia 12 tahun belum menggunakan media sosial, sedangkan putrinya yang hampir berusia 15 tahun telah memiliki akun Instagram.

Nadia menganggap literasi media lebih penting dibanding larangan berbasis usia.

“Saya merasa ini sangat bermasalah,” kata Nadia. “Meta adalah penimbun data. Saya tidak bisa membayangkan mereka akan menghapus data yang mereka kumpulkan dengan cara ini.”

“AI dapat menarik data pribadi dan menggunakannya untuk tujuan yang tidak jelas bagi kita,” katanya. “Dan mungkin AI bahkan tidak bisa mengenali akun milik anak di bawah 13 tahun, karena banyak pengguna menjaga akun mereka tetap anonim.”

Meta menyatakan akun yang terindikasi dimiliki pengguna di bawah 13 tahun akan dinonaktifkan sementara.

Pengguna diminta memverifikasi usia mereka. Jika verifikasi tidak berhasil atau tidak dapat membuktikan usia di atas 13 tahun, akun beserta data terkait akan dihapus.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Jasa Pembuatan Website Aceh

Sukseskan bisnis anda dengan website yang menarik dan berkualitas.

Terbaru ⟶

Baca juga