HABAKITA – Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan stok minyak goreng di pasar aman menjelang Ramadan. Ia meminta produsen memperbanyak produksi minyak goreng second brand atau merek kedua yang kualitasnya setara Minyakita.
Pernyataan itu disampaikan Budi setelah meninjau proses produksi di pabrik PT Mikie Oleo Nabati Industri, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Februari 2025.
Menurutnya, masyarakat terlalu terpaku pada Minyakita, padahal banyak pilihan minyak goreng lain dengan kualitas sama dan harga terjangkau.
“Kita minta ke produsen untuk mulai banyak memproduksi second brand, second brand dengan harga yang terjangkau seperti Minyakita, tapi kualitasnya sama. Sekarang kan kebanyakan masyarakat kita tahunya Minyakita padahal minyak itu jenisnya banyak,” ujarnya.
Budi menjelaskan Minyakita merupakan instrumen intervensi pasar melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Jumlah Minyakita bergantung pada angka ekspor pengusaha.
Jika ekspor turun, pasokan Minyakita ikut menipis. Kondisi ini sering menimbulkan kesan minyak goreng langka, padahal stok merek lain melimpah.
“Namun, tidak sengaja sekarang Minyakita itu menjadi indikator utama terhadap ketersediaan minyak dan stabilisasi harga. Nah, padahal jumlah Minyakita terbatas, tergantung dari ekspor,” terang Budi.
Pemerintah mendorong produsen menghidupkan kembali merek lama mereka. Budi menyebut dulu ada sekitar 50 second brand minyak goreng yang beredar di pasar rakyat. Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk minyak goreng merek kedua tidak akan diatur seperti Minyakita. Saat ini HET Minyakita berada di angka Rp 15.700 per liter.
“Nggak pakai HET, tapi kita minta acuannya adalah Minyakita,” jelasnya.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan, mengakui masyarakat lebih memilih Minyakita karena harganya lebih murah. Namun, ia menegaskan penjualan second brand tidak menyusut.
“Nggak menyusut juga karena kan harga minyak kita itu ditentukan HET-nya. Tentu selaku konsumen, saya nih selaku konsumen tentu akan mencari barang yang lebih murah harganya. Sebenarnya hukum pasar saja,” kata Iqbal.[]


