Selama ini, kita mengenal roasting sebagai sebuah candaan. Namun bagi kami roasting justru bisa dibaca sebagai indikator kedekatan politik dan tingkat kepercayaan, dengan subjek dan objek roastingnya yang menjadi penentu. Awal 2026 memberikan contoh menarik bagi republic per-roastingan.
Sosok Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, yang dalam waktu berdekatan “dipanggang” oleh dua atasannya yang merupakan figur paling berpengaruh di sektor pangan dan negara, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Presiden Prabowo Subianto.
Roastingan pertama terjadi pada momentum panen raya dan pengumuman swasembada pangan di Karawang.
Mentan Amran Sulaiman menyebut Sudaryono sebagai “doktor muda dan baru dengan IPK 4.0”. Jika dibaca sekilas, ini humor; Namun jika ditarik ke konteks kebijakan, pernyataan Amran itu adalah legitimasi kompetensi. Pada sektor pertanian yang selama ini sering dikotakkan antara seorang “ahli teori” dan “orang lapangan”, Sudaryono diposisikan sebagai gabungan keduanya. Data akademik yang disebut Amran (IPK 4.0) dipertemukan dengan realitas lapangan sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Ini penting, sebab keberhasilan swasembada bukan semata soal pupuk dan benih, tetapi juga soal desain kebijakan berbasis pengetahuan.
Roastingan kedua datang dari Presiden Prabowo Subianto pada acara yang sama. Kali ini sasarannya adalah fakta bahwa Sudaryono “terlalu banyak menjadi ketua”. Jika kita lihat berdasarkan analisa organisasi, banyaknya posisi yang diemban seseorang sering kali menjadi anomali dalam birokrasi; ini bisa berarti ambisi berlebih, atau kekurangan figur yang dianggap mampu.
Dalam kasus Sudaryono, konteks politik pemerintahan Prabowo Subianto menunjukkan kecenderungan kedua. Presiden dikenal hanya memberi beban besar kepada orang yang dianggap sanggup menanggung risiko.
Dengan kata lain, roastingan Presiden justru mengonfirmasi satu hal Sudaryono adalah trusted operator.
Roastingan ketiga terjadi di Istana Negara, dalam acara dengan para rector dan guru besar Dimana suasananya lebih formal.
Suasana berubah menjadi cair saat salah ketik gelar akademik, lalu Presiden membuka kartu Sudaryono yang telah lama menjadi sekretaris pribadinya dengan menyebut Sudaryono sebagai sosok yang “makannya banyak”.
Pernyataan Presiden ini menarik jika dibaca sebagai simbol. Dalam politik kerja Prabowo, stamina adalah variabel penting. Kerja lapangan, rapat panjang, dan target besar membutuhkan daya tahan.
“Makan banyak” Sudaryono di sini bukan soal selera, melainkan metafora kesiapan fisik dan mental. Negara dengan wilayah pertanian yang luas tidak bisa dikelola oleh pejabat yang mudah tumbang oleh keadaan dan kelelahan.
Jika tiga roastingan ini ditarik dalam satu garis analisis, Sudaryono dipotret sebagai figur pekerja, cakap secara akademik, dipercaya secara struktural, dan kuat secara fisik. Satir yang diarahkan kepadanya tidak pernah menyentuh integritas atau kapasitas, justru berputar di sekitar produktivitasnya. Ini berbeda dengan roasting yang bernuansa delegitimasi seperti di Mens Rea, roastingan yang terjadi pada Sudaryono adalah sebaliknya, legitimasi melalui humor.
Bagi publik, terutama petani; simbol ini penting. Anak petani yang kini berada di lingkar kekuasaan pusat tidak sedang dipoles menjadi elit di menara gading. Sudaryono tetap digambarkan sebagai orang yang makannya banyak, kerja banyak, dan memikul banyak tanggung jawab. Dalam politik pangan, citra semacam ini bukan kosmetik, melainkan modal besar ke depan.
Pada akhirnya, piring Sudaryono yang penuh dan sering dijadikan bahan candaan justru mencerminkan satu hal; agenda besar membutuhkan energi besar. dan dalam pemerintahan yang menargetkan swasembada dan kemandirian pangan, energi baik yang intelektual maupun fisik bukan merupakan pilihan, melainkan keharusan.
Penulis
Ayip Tayana
Analis Indeks Data Nasional


