HABAKITA – Kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Aceh Tamiang diminta agar tidak berhenti sebagai ajang seremoni. Masyarakat berharap kehadiran Presiden memberi dampak nyata terhadap penanggulangan bencana banjir yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan.
Direktur Eksekutif Lembahtari, Sayed Zainal, menegaskan perlunya tindak lanjut serius setelah kunjungan Presiden.
“Yang perlu kita garis bawahi, kunjungan ini merupakan yang kedua kalinya. Jangan ada kesan hanya seremoni saja. Setelah beliau pulang penanganannya kembali lamban,” kata Sayed Zainal, Kamis, 1 Januari 2026.
Ia menyoroti kerusakan hutan yang menjadi pemicu banjir. Menurutnya, penanganan pascabencana masih belum maksimal.
Sayed berharap kehadiran Presiden di Aceh Tamiang mengunci tahap darurat. Banyak warga belum bisa pulang karena rumah mereka masih dipenuhi lumpur.
“Tahap emergency ini harus bisa dipastikan berjalan baik, ini menyangkut pembersihan material lumpur yang menutupi jalan,” ujarnya.
Ia menekankan pembersihan harus dilakukan serius agar fasilitas umum hingga pelosok kampung kembali normal. Perbaikan jaringan listrik, penyediaan air bersih, pembangunan hunian tetap, dan bantuan dana untuk korban banjir disebut sebagai kebutuhan mendesak.
“Perekonomian warga juga harus segera dipulihkan. Presiden harus menjamin untuk membantu peningkatan ekonomi warga. Pada sektor lingkungan, ia juga mengingatkan agar presiden mengkaji ulang kebijakan terkait kehutanan, perkebunan dan tambang,” kata Sayed.
Ia menambahkan satu hal penting lain, yakni soal bantuan internasional.
“Satu hal juga yang penting, pemerintah pusat jangan menghambat bantuan asing untuk rehab dan rekonstruksi pascabanjir,” ujarnya.
Banjir besar di Aceh Tamiang melumpuhkan aktivitas warga sejak awal Desember. Ribuan rumah terendam, lahan pertanian rusak, dan akses jalan tertutup lumpur. Warga berharap kunjungan Presiden kali ini benar-benar membawa langkah cepat, bukan sekadar simbol kehadiran negara.[]


